Langsung ke konten utama

Lima Sentimeter. An unprofessional review by a piece of human.

5 cm.
Ada yang udah nonton?
Yang belom buruan nonton.
Yang udah yuk nonton lagi.

Ini beneran film Indonesia yg bener-bener bikin gue ngga nyesel nontonnya.
I think for this 2012, this thing really really the best Indonesian movie of the year after Modus Anomali and The Raid.
Entah mungkin karna gue lebih memuja slasher kali ya, gue beneran kasih 5 Stars Plus-Plus buat MA.
Sedangkan buat The Raid 4 Stars doang, dan untuk Lima Senti ini gue kasih 5 Stars Ajah.

Mungkin karna sebelumnya gue belom pernah bikin review film ya? Dan kebetulan tujuan gue nge-post disini juga cuman buat sharing aja, tapi si Lima Senti ini bisa jadi bukti kalo perfilman Indonesia ngga selamanya bobrok yang meracuni pikiran rakyatnya hanya dengan hantu, ketawa, dan seks.
Actually this thing really persuade us to appreciating more and more about our country; Indonesia.
Dari awal opening introduction-nya yang ringan (Gue masih berpikir gimana cara Raline Shah ngafalin script-nya saat Riani mesen Indomi), ditambah bumbu-bumbu komedi yang pas (especially kepolosan Pevita di telpon), sampai point-up-climax-nya pas mereka mendaki Mahameru.
Penonton bener-bener dimanja dengan alur cerita yang easy-going dan panorama yang luar biasa indah yang tentunya Indonesia punya.
Kalo bisa ngasih lebih dari 4 jempol, gue kasih deh buat soundfx-nya!
Penempatan backsound sangat sangat tepat!!
Gue sangat menghargai kerja keras Nidji disini.

Ah gila kameramennya keren banget!
Gue pernah terlibat dalam suatu proyek film dan gue jd subkameramen sekaligus editornya
Gue suka banget cara si kameramen Lima Senti ini memulai setiap scene.
Contah yg pas di stasiun senen.
Dari dia take rel kereta, trus rakyat sekitar, menara pengawas. Semuanya dibuat alus.
Begitu juga pas di Malang. Si kameramen ini tau banget spot-spot keren dan menggunakannya dalam timing yang pas!
Sumpe. Puncak tertinggi Jawa di film ini BEDA sama yang gue liat di gugel.
Genta called it as "Samudra Di Atas Awan"
Landscape yg mungkin lo cuma bisa liat di lukisan, atau kalender-kalender lawas, di film ini bener-bener real!
Yang namanya Ranukumbolo, Kalimati, Arcopodo, dan puncak Mahameru itu keren banget!
Afterwards gue pengen beli novelnya. I have to!
Sesuai dengan sebelumnya, gue berpikir versi film pasti ngga sekeren dari novelnya, dimana imajinasi lo dibiarkan membayangkan semua yg kata-kata deskripsikan dalam novel.
Dari novel remaja Dealova, sampe buku kakap Angels & Demons nya Dan Brown, gue temukan kalo cerita yang diberikan itu lebih keren dari filmnya. Gatau deh kalo ini.



Well,
Poin yg gue dapet dari film ini itu ya bagaimana lo bisa mencintai negeri lo sendiri.
Disaat anak-anak muda ini belajar Pendidikan Kewarganegaraan di sekolahnya, teriak-teriak 5 sila Pancasila saat upacara, dan ekstrakurikuler Paskibra.
Memang klise, tapi gue rasa sulit nemu jiwa-jiwa nasionalis skrg ini.
Ga muna, gue juga (x_x)
(It's not my fault, blame the KPop Virus!)
Dan faktanya, kita cuma bisa nemuin nasionalisme orang Indonesia saat ada budaya/tradisi lama negara kita yang bahkan kita ngga terlalu pahami, diaku-akui negara lain.
Beside that; Ze - ro.


Poin yang berikutnya itu friendship.
As i told you before on my another post; amitie
Gue gamau terlalu bahas soal ini.


And the last point; Mimpi.
Hellyeah.
Tadi pagi sebelum ke kantor gue nyalain tipi, nongol tuh iklan salah satu provider selular Indonesia dengan Agnes Monica, yg besok katanya mau konser.
Kata-kata terakhirnya itu "Dream, believe, and make it happen"

Setiap orang punya mimpi.
Adek gue punya mimpi, sepupu gue punya mimpi, temen kantor gue punya mimpi.
Mba-mba-twentyone-yang-pake-rok-panjang-tapi-belahannya-sampe-paha juga pasti punya mimpi.
Tapi gue?


Entah karna gue masih bocah atau emang dasar gue begini ya?
Bahkan masih sulit buat gue membedakan mimpi, cita-cita, dengan obsesi.
Mimpi sih punya, tapi gue belum pernah punya mimpi sampe-sampe gue bener-bener terobsesi untuk membuat mimpi itu jadi kenyataan.
Puji Tuhan banget gue masih puas dengan apa yang gue dapet dan gue punya di hidup gue sampe saat ini.
After gue nonton film ini, gue berpikir keras apa kira-kira mimpi yang bener-bener harus gue capai.


Selagi gue mencari mimpi gue, gue punya satu keinginan.
Gue gatau ini mimpi atau cita-cita, tapi yang jelas bukan obsesi.
Gue pengen membantah postingan gue yg berjudul amitie itu.
Gue pengen punya sahabat-sahabat yang solid seperti di film itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Choir Tiberias Senayan City

sampe skarang gue ngga bisa bayangin apa jadinya gue kalo gue ngga ketemu sama satu komunitas yg luar biasa ancur ini (mungkin agak lebai yah)
tapi emang bener.
ini adalah salah satu anugerah Tuhan yg keren banget dalam hidup gue.

gue ngga pernah nyesel bisa kenal TIBERIAS CHOIR.
terlebih keluarga baru gue : TIBERIAS CHOIR SENAYAN CITY
makasih ya kak sarah saya ditaro disini ;))
Choir Tiberias SenCy ini beranggotakan 11 orang aktif sampai saat ini.

1. Bella : cewe kelas 1 SMK tapi jiwanya masih kelas 6 SD
2. Dape : umur 20taun muka 16taun (??)
3. Devina : si sipit adenya jesika yg kerjaannya BBMan mulu, tapi takut kalo disuruh nge-leader, hahaha
4. Candra : hambaNya yg suka telat. sekali dia ngomong tentang kasih karunia, ngga ada yg bisa ngejawab !
5. Ellen : si cumi seksi konsumsi, kalo dia ngga masuk, gue mendadak laper (????)
6-7. Mega - Megi : si kembar menado anak BSD yg paling update soal Boanerges
8. Nadya : si Chubby, memiliki kisah tersendiri dalam gereja Tiberias. hahahaha
9. Paulus : an…

"Where words fail, music speaks."

Pernah kebayang ngga sih lo orang hidup ga ada musik?

Ga ada lagu, ga ada nada.
Ga ada alat musik.
Ga ada soundtrack.
Ga ada sound effects di film2 atau di FTV-yang-bisa-bikin-supir-angkot-sama-orang-kaya-jadian
Ga ada suara2 yg bikin tegang kalo Tersanjung-6-mau-bersambung-trus-muka-artisnya-zoom-in-zoom-out.
Ga ada tuh india joget2 di taman bunga atau ballroom wedding.


I think, I really can NOT live in that kind of world.
It could be boring. So damn boring.

Gw kalau pergi kemanapun, apalagi jaraknya agak jauh, earphone adalah barang yang bener2 harus standby.
Selama di kantong celana gw masih ada duit, it doesn’t matter if I left my wallet at home.
Tapi kalo udah namanya earphone ketinggalan, no matter how far, gw harus balik lagi ngambil earphone.
Gw bukan tipe orang yg royal (ya, bukan royal, tapi hedon -__-)
Gw ngga berpikir 2x untuk beli earphone yg mungkin harganya sama kaya harga henpon2 cina yg kameranya ada 4
Iya empat.
Ha?
Ya menurut lo aja, gw bacanda juga kali. Buat apa ju…

Lionheart(ed)

Lionheart. It usually means brave, since the lion has always been a symbol of courage. This ‘lion-heart’ term is used for a person who possesses exceptional courage and fortitude. He must be a bold person. He can deal with any kind of danger or fear. The courage that makes it such has to have come from a heart that has too much strength and determination. Fearlessness is the attribute that most closest to being a Lionheart.
To take any challenge head on despite the obvious resistance, just a step prior to being suicidal, is a Lionheart, for having the power within him to overcome any obstacles on his way.

In the other side, it also means that his mind is like a King – who care for others and not selfish, who doesn’t harm others for no reason.

Eventually, all the picture about Lionheart above still hasn’t reached me yet. Am I brave? Am I that bold? Do I believe in myself? Can I deal with all the obstacles? Still I care for others rather than mine?
Not yet.
Then why Sam?
For being stron…